menu

#mbtnavbar { background: #060505; width: 960px; color: #FFF; margin: 0px; padding: 0; position: relative; border-top:0px solid #960100; height:35px; } #mbtnav { margin: 0; padding: 0; } #mbtnav ul { float: left; list-style: none; margin: 0; padding: 0; } #mbtnav li { list-style: none; margin: 0; padding: 0; border-left:1px solid #333; border-right:1px solid #333; height:35px; } #mbtnav li a, #mbtnav li a:link, #mbtnav li a:visited { color: #FFF; display: block; font:normal 12px Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 9px 12px 10px 12px; text-decoration: none; } #mbtnav li a:hover, #mbtnav li a:active { background: #BF0100; color: #FFF; display: block; text-decoration: none; margin: 0; padding: 9px 12px 10px 12px; } #mbtnav li { float: left; padding: 0; } #mbtnav li ul { z-index: 9999; position: absolute; left: -999em; height: auto; width: 160px; margin: 0; padding: 0; } #mbtnav li ul a { width: 140px; } #mbtnav li ul ul { margin: -25px 0 0 161px; } #mbtnav li:hover ul ul, #mbtnav li:hover ul ul ul, #mbtnav li.sfhover ul ul, #mbtnav li.sfhover ul ul ul { left: -999em; } #mbtnav li:hover ul, #mbtnav li li:hover ul, #mbtnav li li li:hover ul, #mbtnav li.sfhover ul, #mbtnav li li.sfhover ul, #mbtnav li li li.sfhover ul { left: auto; } #mbtnav li:hover, #mbtnav li.sfhover { position: static; } #mbtnav li li a, #mbtnav li li a:link, #mbtnav li li a:visited { background: #BF0100; width: 120px; color: #FFF; display: block; font:normal 12px Helvetica, sans-serif; margin: 0; padding: 9px 12px 10px 12px; text-decoration: none; z-index:9999; border-bottom:1px dotted #333; } #mbtnav li li a:hover, #mbtnavli li a:active { background: #060505; color: #FFF; display: block; margin: 0; padding: 9px 12px 10px 12px; text-decoration: none; }

PENTINGNYA SABAR

Oleh : Miskun, S.Pd, M.Pd

Kepala SD Muhammadiyah Kebumen

 

 

 

A. Kepastian akan Ujian Hidup  

Para pembaca yang budiman. Fitnah di dalam hidup ini beragam bentuknya. Hakikat fitnah itu adalah ujian dan cobaan dari Allah untuk hamba-hamba-Nya; dalam rangka membuktikan kebenaran iman dan ketulusan penghambaan mereka kepada-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ (٢) وَلَقَدۡ فَتَنَّا ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ‌ۖ فَلَيَعۡلَمَنَّ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ صَدَقُواْ وَلَيَعۡلَمَنَّ ٱلۡكَـٰذِبِينَ (٣)

“Apakah manusia itu mengira dia ditinggalkan begitu saja mengatakan: Kami beriman, lalu mereka tidak diberikan ujian? Sungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah akan mengetahui orang-orang yang jujur dengan orang-orang yang dusta” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3).

وَلَنَبۡلُوَنَّكُم بِشَيۡءٖ مِّنَ ٱلۡخَوۡفِ وَٱلۡجُوعِ وَنَقۡصٖ مِّنَ ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ ٱلَّذِينَ إِذَآ أَصَٰبَتۡهُم مُّصِيبَةٞ قَالُوٓاْ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيۡهِ رَٰجِعُونَ 

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan dengan suatu ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.” (Q.S. Al-Baqarah 155-156).

كُلُّ نَفۡسٍ ذَآٮِٕقَةُ الۡمَوۡتِ‌ؕ وَنَبۡلُوۡكُمۡ بِالشَّرِّ وَالۡخَيۡرِ فِتۡنَةً‌  ؕ وَاِلَيۡنَا تُرۡجَعُوۡنَ

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. Q.S Al Ambya :35

 

B. Perintah Sabar

Sebagai orang yang beriman kepada-Nya, kita pun diperintahkan untuk senantiasa bersabar selama menjalani ujian-ujian tersebut karena dengan kesabaran dan tawakal seluruh ujian atau cobaan dan musibah tersebut bisa dilalui dengan baik, membawa kebaikan, dan keberkahan. Pada dasarnya Allah telah memberi ujian dan cobaan di setiap hambanya sesuai porsinya masing-masing.

 

Bersabar merupakan perintah Alloh SWT kepada hambaNya, Allah Subhanahu Wata’ala  berfirman:

ياَأيهَا  الَّذِينَ  اٰمَنُوا اصْبِرُوْا  وَصَابِرُوْا وَ رَابِطُوْا وَاتَّقُوا  اللّٰهَ  لَعَلَّكُمْ  تُفْلِحُوْنَ۠ (۲۰۰)

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”. (QS. Ali Imran /3: 200)

Al-hasan al-bashri rahimahullah  berkata “ mereka diperintahkan agar bersabar diatas agama mereka yang telah Allah meridhoi untuk mereka,  yaitu agama Islam. Jangan  sampai mereka meninggalkannya dengan sebab senang atau susah,  Sejahtera, sehingga mereka bisa mati dalam keadaan sebagai orang-orang Islam.  dan dan agar mereka menambah kesabaran menghadapi musuh-musuh yang menyembunyikan agama mereka. tafsir Ibnu Katsir, Surat Ali Imran

وَٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى ٱلْخَٰشِعِينَ 

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." Surat Al Baqoroh : 45

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَعِينُوا۟ بِٱلصَّبْرِ وَٱلصَّلَوٰةِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Surat Al-Baqarah Ayat 153

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَىْءٍ مِّنَ ٱلْخَوْفِ وَٱلْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَنفُسِ وَٱلثَّمَرَٰتِ ۗ وَبَشِّرِ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar." Surat Al-Baqarah Ayat 155

 

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ

"Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." Surat Al-Anfal Ayat 46

 

Bahkan Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa sabar adalah separuh dari keimanan. Rasulullah ﷺ  mengatakan, dari Anas bin Malik,

الْإِيمَانُ نِصْفَانِ نِصْفٌ فِي الصَّبْرِ، وَنِصْفٌ فِي الشُّكْرِ

Iman itu ada dua, separuhnya ada pada sabar, dan separuhnya ada pada syukur

 

 

Allah SWT telah menjanjikan beragam hal bagi mereka yang mampu sabar dalam menghadapi kesulitan hidup.

 

C . Tingkatan Sabar

Ada tiga tingkatan sabar yang dianjurkan oleh Nabi Muhammad ﷺ. Seperti dalam kitab as-Shabru wa Tsawâb ‘alaihi, Syekh Ibnu Abid Dunya mencantumkan sebuah hadis riwayat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصَّبْرُ ثَلَاثٌ: فَصَبْرٌ عَلَى الْمُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى الطَّاعَةِ، وَصَبْرٌ عَنِ الْمَعْصِيَةِ، فَمَنْ صَبَرَ عَلَى الْمُصِيبَةِ حَتَّى يَرُدَّهَا بِحُسْنِ عَزَائِهَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ ثَلَاثَمِائَةِ دَرَجَةٍ بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ إِلَى الْأَرْضِ، وَمَنْ صَبَرَ عَلَى الطَّاعَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ سِتَّمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ، وَمِنْ صَبَرَ عَنِ الْمَعْصِيَةِ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ تِسْعَمِائَةِ دَرَجَةٍ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَةِ إِلَى الدَّرَجَةِ كَمَا بَيْنَ تُخُومِ الْأَرْضِ إِلَى مُنْتَهَى الْعَرْشِ مَرَّتَيْنِ  

 “Sabar ada tiga tingkatan; sabar atas musibah, sabar dalam menjalani ketaatan, dan sabar dari laku kemaksiatan. Siapa saja yang sabar menghadapi musibah, sampai ia mampu merestorasinya sebaik mungkin, Allah akan mengangkat 300 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara langit dan bumi.

Dan, yang bersabar dalam menjalani ketaatan, Allah mengangkat 600 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sejauh antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy.
Sedangkan, bagi yang bersabar dari laku kemaksiatan, Allah mengangkat 900 derajatnya. Di mana, satu dengan lainnya berjarak sekitar dua kali lipat antara lapisan-lapisan bumi dan batas (ketinggian) ‘arsy.”

 

1.     Sabar menghadapi musibah.

Seperti yang telah diketahui, sebagai umat muslim, takdir Allah ada dua macam, yaitu takdir yang menyenangkan dan yang tidak menyenangkan (musibah). Bagi siapa pun yang mendapat takdir baik, maka hendaklah bersyukur. Tapi bagi yang sedang menghadapi musibah, maka hendaklah bersabar.

Allah Subhanahu Wata’ala telah memberikan bahwa dia pasti akan menguji para hambanya dengan berbagai musibah, maka kewajiban hamba adalah bersabar menghadapinya.

Allah Subhanahu Wata’ala juga memberi memberitakan bahwa diantara sifat orang-orang yang bertakwa adalah :

وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ  أُولئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ  وَأُولئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ

Artinya: Dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan penderitaan dan dalam peperangan. mereka itulah orang-orang yang benar imannya; dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.al- Baqarah:177)

 

Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:

‎ لَمْ يَبْقَ مِنَ الدُّنيا إلَّا بلاءٌ وفتنةٌ

“Tak ada yang tersisa dari dunia ini kecuali cobaan dan ujian”. ( Dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah No. 3276 )

 

Ibnu Rajab rahimahullah :

اِنْتِظَارُ الْفَرَجِ بِالصَّبْرِ عِبَادَةً ؛ فَإِنَّ الْبَلَاءَ لَا يَدُومُ

“Sabar menunggu jalan keluar adalah ibadah, karena musibah itu tidak akan kekal.”

(Majmuu Rasaail Ibnu Rajab, 3/155)

 

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda;

 وَأَفْضَلُ الْعِبَادَةِ انْتِظَارُ الْفَرَجِ

 "Sebaik baik Ibadah adalah menunggu jalan keluar (solusi) (riwayat At-Tirmidzi).

Dalam hadis lain disebutkan :

 وَاعْلَمْ أنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الفَرَجَ مَعَ الكَربِ، وَأَنَّ مَعَ العُسرِ يُسراً

"Dan ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran. Jalan keluar itu bersama penderitaan. Dan kesulitan itu disertai kemudahan”. (Riwayat At-Tirmidzi)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah memberi memberitakan tentang keadaan orang mukmin yang mengherankan, yaitu karena semua urusannya baik baginya. Sebagaimana dalam sabdanya:

عجبا لأمر المؤمن إن أمره كله خير وليس ذاك لأحد إلا للمؤمن إن أصابته سراء شكر فكان خيرا له وإن أصابته ضراء صبر فكان خيرا له

Artinya: “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini meskipun didapati pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik-baik saja. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik-baik saja. (HR. Muslim, no. 2999)

 

Nasihat bersabar dari Rasul saat menghadapi musibah dapat dipelajari dari hadis yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik. Beliau berkata:

مَرَّ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِامْرَأَةٍ تَبْكِى عِنْدَ قَبْرٍ فَقَالَ « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى » . قَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَبْ بِمُصِيبَتِى ، وَلَمْ تَعْرِفْهُ . فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – . فَأَتَتْ بَابَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – فَلَمْ تَجِدْ عِنْدَهُ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ لَمْ أَعْرِفْكَ . فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الأُولَى »

     “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam pernah melewati seorang wanita yang sedang menangis di sisi kuburan. Lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, (Bertakwalah pada Allah dan bersabarlah). Kemudian wanita itu berkata, (Menjauhlah dariku. Sesungguhnya engkau belum pernah merasakan musibahku dan belum mengetahuinya). Kemudian ada yang mengatakan pada wanita itu bahwa orang yang berkata tadi adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian wanita tersebut mendatangi pintu (rumah) Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian dia tidak mendapati seorang yang menghalangi dia masuk pada rumah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Kemudian wanita ini berkata, (Aku belum mengenalmu). Lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, (Sesungguhnya namanya sabar adalah ketika di awal musibah).” (HR. Bukhari)


Abdul Malik bin Abjar rahimahullah berkata dalam kitab Shifat Ash-Shafwah sebgai beikut :

مَا مِنَ النَّاسِ إِلَّا مُبْتَلَى بِعَافِيَةٍ لِيُنْظَرَ كَيْفَ شُكْرُهُ أَوْ مُبْتَلَى بِبَلِيَّةٍ لِيُنْظَرَ كَيْفَ صَبْرُهُ

“Manusia pasti diuji dengan kesehatan untuk dilihat bagaimana wujud syukurnya, atau di uji dengan bencana untuk dilihat sejauh mana kesabarannya.”

Dalam hadis yang lain Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

عِظَمُ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ، وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Besarnya pahala sesuai dengan besarnya cobaan, dan sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu kaum maka Dia akan menguji mereka. Oleh karena itu, barang siapa rida (menerima cobaan tersebut) maka baginya keridaan, dan barang siapa murka maka baginya kemurkaan.”

 

2.     Bersabar tidak melakukan maksiat.

Setiap saat seorang muslim pasti selalu mendapat godaan dari makhluk yang terlihat nyata atau pun makhluk yang gaib untuk melakukan maksiat. Baik itu perbuatan dosa kecil maupun besar, seorang muslim harusnya sabar untuk menahan diri. Dosa-dosa yang tidak sengaja dilakukan seperti melihat yang tidak seharusnya dilihat dan menggunjing orang lain termasuk perbuatan yang harusnya dihindari.

Para ulama mengatakan bahwa Nabi Yusuf ‘alaihissalam lari karena takut tidak bisa lagi menahan dirinya. Sementara kata Allah ﷻ,

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا

Dan sungguh, perempuan itu telah berkehendak kepadanya (Yusuf). Dan Yusuf pun berkehendak kepadanya.” (QS. Yusuf : 24)

Nabi Yusuf ‘alaihissalam sebagai manusia biasa juga ternyata telah tergerak syahwatnya melihat wanita yang begitu cantik di hadapannya. Akan tetapi dia memilih untuk kabur dan lari meninggalkan wanita tersebut. Sungguh ujian yang dialami oleh Nabi Yusuf ‘alaihissalam sangatlah luar biasa, siapakah pemuda di zaman sekarang yang bisa seperti Nabi Yusuf ‘alaihissalam? Jangankan digoda oleh wanita cantik, mungkin digoda oleh wanita biasa saja pun dia sudah tidak bisa menahan dirinya.

 

Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan di zaman sekarang yang penuh fitnah ini sungguh tidaklah mudah. Akan tetapi kita membutuhkan perjuangan agar bisa menghindarkan diri dari kemaksiatan tersebut. Ada beberapa hal yang disebutkan oleh para ulama bahwa bersabar dari kemaksiatan bisa ditempuh dengan tiga cara,

a.      Karena takut kepada Allah

Betapa banyak orang yang sedang melakukan kemaksiatan kemudian Allah ﷻ mencabut nyawanya tatkala itu juga. Kita tidak pernah tahu kapan Allah ﷻ mencabut nyawa kita. Ketika kita meninggal dalam keadaan bermaksiat, maka kita meninggal dalam keadaan suulkhatimah (mati yang buruk). Mungkin terbetik di dalam benak kita bahwa kita ingin bertaubat dari kemaksiatan yang dilakukan. Akan tetapi adakah jaminan bahwa kita meninggal dalam keadaan telah bertaubat? Atau meninggal tatkala sedang bermaksiat kepada Allah ﷻ? Bukankah Allah ﷻ telah berfirman,

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah (Muhammad), “Aku benar-benar takut akan azab hari yang besar (hari Kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku.” (QS. Al-An’am : 15)

Maka dari itu hendaknya seseorang merenungkan hal tersebut, agar dia bisa meninggalkan kemaksiatan. Karena bisa saja Allah menurunkan azab atau mencabut nyawanya tatkala melakukan kemaksiatan. Rasa takut kepada Allah ﷻ ini bisa membuat kita berhenti atau bersabar untuk meninggalkan kemaksiatan.

b.       Karena malu kepada Allah

Di antara yang bisa membuat seseorang bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan adalah rasa malu kepada Allah ﷻ. Malu jika dengan banyaknya kenikmatan yang Allah berikan, sedangkan kita menggunakannya untuk membangkang dari perintah Allah ﷻ. Oleh karenanya tatkala Nabi Yusuf ‘alaihissalam digoda oleh Zulaikha, beliau mengatakan,

مَعَاذَ اللَّهِ إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ

Aku berlindung kepada Allah, sungguh, tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.” (QS. Yusuf : 23)

Sebagian ahli tafsir mengatakan bahwa makna perkataan Nabi Yusuf ‘alaihissalam

 إِنَّهُ رَبِّي أَحْسَنَ مَثْوَايَ ada dua, pertama bahwa tuannya telah berbuat baik kepadanya, sehingga tidak mungkin dia mengkhianati tuannya. Kedua bahwa Allah ﷻ telah memberinya banyak kenikmatan, sehingga tidak pantas bagi beliau untuk membangkang dari perintahnya dan melakukan zina dengan Zulaikha.

Bukankah Allah ﷻ telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita? Allah ﷻ berfirman,

أَلَمْ نَجْعَلْ لَهُ عَيْنَيْنِ. وَلِسَانًا وَشَفَتَيْنِ

“Bukankah Kami telah menjadikan untuknya sepasang mata, dan lidah dan sepasang bibir?” (QS. Al-Balad : 8-9)

Allah ﷻ telah memberikan kepada kita nikmat penglihatan, akan tetapi kita gunakan untuk melihat hal-hal yang diharamkan oleh Allah ﷻ? Allah ﷻ juga telah memberikan kita nikmat lisan, akan tetapi kita gunakan untuk gibah, namimah dan yang ….lainnya? Sungguh banyak kenikmatan yang lain, akan tetapi seharusnya kita malu jika nikmat yang Allah ﷻ berikan tersebut kita gunakan untuk bermaksiat kepada-Nya.

Oleh karenanya di antara cara agar seseorang bisa bersabar dalam meninggalkan maksiat adalah rasa malu kepada Allah ﷻ. Jika kita ingin kenikmatan itu terjaga pada diri kita, hendaknya kita meninggalkan maksiat. Seorang penyair berkata,

إِذَا كُنْتَ فِي نِعْمَةٍ فَارْعَهَا … فَإِنَّ الذُّنُوبَ تُزِيلُ النِّعَمْ

Apabila engkau dalam kenikmatan maka jagalah. Sesungguhnya dosa-dosa bisa menghilangkan kenikmatan.”

Oleh karenanya Nabi ﷺ  juga mengatakan,

اسْتَحْيُوا مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ

Malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu.”([5])

Latihlah diri kita untuk merasa malu kepada Allah ﷻ. Jika kesehatan, pandangan, dan kenikmatan yang lain adalah pemberian Allah ﷻ, lantas mengapa kemudian kita menggunakannya untuk membangkang dan bermaksiat kepada Allah ﷻ.

c.       Karena cinta kepada Allah

Di antara cara seseorang bisa bersabar meninggalkan maksiat adalah karena rasa cinta kepada Allah ﷻ. Sebagaimana kita ketahui bahwa ketika kita telah mencintai seseorang, maka pasti apa pun yang diperintahkan oleh orang yang kita cintai akan kita kerjakan. Contohnya adalah seorang suami yang mencintai istrinya, maka pasti apa pun yang diperintahkan oleh sang istri akan dituruti oleh sang suami, selama dia bisa melakukannya. Apa pun yang dilarang oleh istri terkadang akan dituruti oleh suami. Ini semua karena dasar cinta sang suami kepada sang istri. Demikian juga seseorang yang mencintai Allah ﷻ, apa pun yang Allah ﷻ larang, hendaknya tidak dilakukan.

Bukti seseorang mencintai Allah ﷻ adalah dia melakukan apa saja yang diperintahkan oleh Allah ﷻ, dan meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah ﷻ. Dengan melakukan ini pula, seseorang bisa mendapatkan cinta Allah ﷻ. Ketahuilah bahwa setiap kali seseorang bermaksiat, maka dia telah menghilangkan kecintaannya kepada Allah dari dirinya. Semakin dia bermaksiat, maka akan semakin jauh dia dari Allah ﷻ. Sedangkan kita tidak ingin jauh dari Allah ﷻ, karena jauh dari-Nya adalah sebuah musibah.

Betapa banyak orang yang mengaku cinta kepada Allah ﷻ, akan tetapi tidak ada bukti cintanya. Malah sebaliknya yang dia lakukan adalah bermaksiat kepada Allah ﷻ, yang itu bukti bahwa dia tidak cinta kepada Allah ﷻ. Sesungguhnya konsekuensi dari orang yang mencintai Allah ﷻ adalah apa yang diperintahkan oleh Allah dia kerjakan, dan apa yang dilarang oleh Allah dia tinggalkan.

Inilah model kedua dari kesabaran dan tidak kalah pentingnya, yaitu bersabar meninggalkan maksiat karena Allah ﷻ.

 

 

3.     Sabar menjalani ketaatan

Banyak ayat Al-qur’an yang memerintahkan untuk bersabar dalam melaksanakan ketaatan  kepadanya. 

Sabar dalam menjalankan ketaatan bukanlah perkara yang mudah. Salat berjamaah lima waktu di masjid tidaklah mudah. Memerintahkan keluarga untuk salat juga tidak mudah. Semuanya bisa dilakukan hanya dengan kesabaran. Oleh karenanya Allah ﷻ mengatakan,

 

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan sabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat (yang baik di akhirat) adalah bagi orang yang bertakwa.” (QS. Thaha : 132)

 

Allah ﷻ selanjutnya memerintahkan sabar dalam taat silaturohim:,

وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ

Dan orang-orang yang menyambung (silaturahmi) terhadap apa yang diperintahkan Allah agar dia menyambungnya, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang buruk.” (QS. Al-Ra’d : 21)

Menyambung silaturahmi bukanlah perkara yang mudah. Silaturahmi itu butuh kesabaran. Di antara silaturahmi yang teragung adalah berbakti kepada orang tua. Oleh karenanya tatkala ada orang yang meminta izin untuk ikut berjihad bersama Rasulullah ﷺ , beliau ﷺ  berkata,

أَحَيٌّ وَالِدَاكَ؟، قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَفِيهِمَا فَجَاهِدْ

Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Laki-laki itu menjawab: “Iya”. Maka Beliau berkata: “Kepada keduanyalah kamu berjihad (berbakti).” ([3])

 

Sabar menjalankan ketaatan :

وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلَانِيَةً وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ

Dan orang yang sabar karena mengharap keridhaan Tuhannya, melaksanakan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak (membalas) kejahatan dengan kebaikan, orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik).” (QS. Ar-Ra’d : 22)

Orang-orang yang bersabar karena mengharap wajah Allah ﷻ, mendirikan salat, berinfak dan bersedekah, semuanya bisa dilakukan dengan kesabaran. Terlebih lagi membalas keburukan dengan kebaikan juga lebih-lebih membutuhkan kesabaran. Oleh karenanya dari semua ciri-ciri ini, di akhir ayat Allah mengatakan bahwa malaikat akan memberi selamat kepada mereka atas kesabaran mereka.

 

Nabi Shallallahu alaihi wasallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَات

Artinya: Surga dikelilingi oleh perkara-perkara yang tidak disukai oleh hawa nafsu manusia sedangkan neraka dikelilingi oleh perkara-perkara yang disukai. (HR. Muslim)

Imam Ibnu Qudamah  al-maqdisi rahimakumullah mengatakan, “seorang hamba membutuhkan kesabaran dalam melakukan ketaatan ketaatan, karena tapi jiwa manusia berpaling dari peribadahan.  kemudian diantara ibadah-ibadah ada yang tidak disukai dengan sebab malas seperti shalat.  dan diantara ibadah-ibadah ada yang tidak disukai dengan sebab bakhil, seperti zakat.  dan diantara ibadah-ibadah ada yang tidak disukai dengan sebab keduanya jiwa dan harta seperti Haji dan Jihad titik seorang yang mencari Ridha Allah Subhanahu Wata’ala membutuhkan kesabaran melakukan ketaatan ketaatan di dalam tiga keadaan:

 

Sabar adalah penolong umat muslim. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 153, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

     “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah:153)

 

D. Fadhilah Orang yang Sabar

Berikut ini hadits dan keutamaannya jika kita bersikap sabar di situasi apa pun.

1. Sabar membuat kita dapat bertemu dengan Nabi Muhammad SAW

عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ 

"Dari Usaid bin Hudlair radliallahu anhum; ada seseorang dari kalangan Anshar yang berkata; 'Wahai Rasulullah, tidakkah sepatutnya baginda mempekerjakanku sebagaimana baginda telah mempekerjakan si fulan?'. Beliau menjawab: 'Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis, egoism, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga).'" ( HR. Bukhari ) [ No. 3792 Fathul Bari] Shahih.

 

 

 

2. Bersikap sabar dapat mendapat ganjaran surga

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى مَا لِعَبْدِي الْمُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبَضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبَهُ إِلَّا الْجَنَّةُ

"Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: 'Allah Ta'ala berfirman: Tidak ada balasan yang sesuai di sisi-Ku bagi hamba-Ku yang beriman, jika aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kemudian ia rela dan bersabar kecuali surga.'" (HR. Bukhari) [ No. 6424 Fathul Bari] Shahih.

 

3. Sifat sabar mencegah kita dari kemungkaran

رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا لَمَّا نَزَلَتْ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ يَغْلِبُوا مِائَتَيْنِ وَإِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ مِائَةٌ فَكُتِبَ عَلَيْهِمْ أَنْ لَا يَفِرَّ وَاحِدٌ مِنْ عَشَرَةٍ فَقَالَ سُفْيَانُ غَيْرَ مَرَّةٍ أَنْ لَا يَفِرَّ عِشْرُونَ مِنْ مِائَتَيْنِ ثُمَّ نَزَلَتْ الْآنَ خَفَّفَ اللَّهُ عَنْكُمْ الْآيَةَ فَكَتَبَ أَنْ لَا يَفِرَّ مِائَةٌ مِنْ مِائَتَيْنِ وَزَادَ سُفْيَانُ مَرَّةً نَزَلَتْ حَرِّضْ الْمُؤْمِنِينَ عَلَى الْقِتَالِ إِنْ يَكُنْ مِنْكُمْ عِشْرُونَ صَابِرُونَ قَالَ سُفْيَانُ وَقَالَ ابْنُ شُبْرُمَةَ وَأُرَى الْأَمْرَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَنْ الْمُنْكَرِ مِثْلَ هَذَا 

"Dari Ibnu Abbas radliallahu anhuma tatkala turun ayat: 'Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir…' (Surat Al Anfal: 65). Maka diwajibkan kepada mereka tidak ada seorang pun yang lari dari sepuluh orang. 

Abu Sufyan berkali-kali mengatakan: 'Jangan sampai ada yang lari dua puluh orang dari dua ratus orang.' Kemudian turunlah ayat: 'Sekarang Allah telah meringankan kepadamu.' (Al Anfal: 66). Maka diwajibkan jangan sampai ada yang lari sebanyak seratus orang dari dua ratus orang. Sufyan menambahkan juga; telah turun ayat; 'Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu...' (Al Anfal: 65). Sufyan berkata; dan Ibnu Syubrumah berkata; 'Aku melihat seperti inilah menyuruh kebaikan dan mencegah kemungkaran.'" (HR. Bukhari) [No. 4652 Fathul Bari] Shahih.

 

4. Allah SWT menjanjikan ganjaran kebaikan bagi hamba-Nya yang sabar

وقال عليه الصلاة والسلام: {إذَا حَدثَ عَلى عَبْدٍ مُصِيبَةٌ في بَدَنِهِ أوْ مَالِهِ أو وَلَدِهِ فاسْتَقْبَلَ ذٰلِكَ بِصَبْرٍ جَمِيلٍ اسْتَحْيَا الله يَوْمَ القِيَامَةِ أَنْ يَنْصِبَ لَهُ مِيزانا أوْ يَنْشُرَ لَهُ دِيوانا 

Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Ketika terjadi musibah pada seorang hamba, baik pada badannya, hartanya atau anaknya kemudian dia menghadapinya dengan kesabaran yang baik, maka pada hari kiamat Allah malu untuk memasang timbangan baginya dan malu untuk membentangkan buku catatan amalannya.'"

5. Mendapat taufiq dari Allah SWT

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عَلَى أَرْبَعَةِ أَوْجُهٍ: صَبْرٌ عَلَى الفَرَائِضِ، وصَبْرٌ عَلَى المُصِيبَةِ، وَصَبْرٌ عَلَى أذَى النَّاسِ، وصَبْرٌ عَلَى الفَقْرِ. فَالصَّبْرُ عَلَى الفَرائِضِ تَوْفِيقٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى المُصِيبَةِ مَثُوبَةٌ، وَالصَّبْرُ عَلَى أذَى النَّاسِ مَحَبَّةٌ، والصَّبْرُ عَلَى الفَقْرِ رِضَا الله تَعَالى

"Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar itu ada empat: sabar dalam menjalankan fardhu, sabar dalam menghadapi musibah, sabar menghadapi gangguan manusia dan sabar dalam kefakiran. Sabar dalam menjalankan kewajiban adalah taufiq, sabar dalam menghadapi musibah berpahala, sabar dalam menghadapi gangguan manusia adalah cinta dan sabar dalam kefakiran adalah ridho Allah ta'ala.''

6. Dengan sabar, kita akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik dari seisi dunia

وقال عليه الصلاة والسلام: {صَبْرُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيها}.

"Nabi saw bersabda: 'Sabar sesaat itu lebih baik dari dunia seisinya.'"

 

7. Mendapat pahala sebesar 70 derajat

وقال عليه الصلاة والسلام: {الصَّبْرُ عِنْدَ المُصِيبَةِ بِتِسْعمَائة دَرَجَةٍ}.

"Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Sabar ketika mendapat musibah itu memperoleh tujuh ratus derajat.'"

 

8. Sabar adalah bentuk rasa syukur kita kepada Allah SWT

وقال صلى الله عليه وسلم: {أَوْحَى الله تَعَالى إلى مُوسَى بنِ عمْرَانِ عَلَيْهِمَا السَّلامُ يَا مُوسَى مَنْ لَمْ يَرْضَ بِقَضَائِي وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بلائي وَلَمْ يَشْكُرْ نَعمائي فَلْيَخْرُجْ مِنْ بَيْنِ أَرضي وَسَمَائِي وَلْيَطْلُبْ لَهُ رَبّا سِوائِي

"Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda: 'Allah ta'ala mewahyukan kepada Musa bin Imran -alaihimas salaam-: 'Hai Musa, barang siapa tidak ridho dengan takdir-Ku, tidak bersabar atas cobaan-Ku, tidak bersyukur atas nikmat-Ku, maka keluarlah dari antara bumi dan langit-Ku, dan carilah Tuhan selain-Ku.'"

 

9. Mendapatkan pahala terbaik dibandingkan dengan apa yang telah kita kerjakan sebelumnya

مَا عِندَكُمْ يَنفَدُ ۖ وَمَا عِندَ ٱللَّهِ بَاقٍ ۗ وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

"Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (An-Nahl ayat 96).

 

10. Mendapatkan pahala yang tiada batasnya

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ 

"Katakanlah: 'Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu'. Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (Az-Zumar ayat 10).